Keris sebagai Lambang Bersahaja

Keris merupakan bagian dari sejarah perkembangan metalurgi. Keris sebagai artefak ideo-teknik dan dapat dimasukkan sebagai artefak teknomi yang pada awalnya sebagai senjata tikam. Aspek simbolik telah mewarnai pandangan masyarakat tentang metalurgi.Jika memaknai keris dengan nilai simbolis sebagai wujud nilai kebatinan Jawa maka sebuah keris diukur atau dimaknai berdasarkan kandungan materinya melalui pesan-pesan yang mengandung nilai moral dan etika dalam lingkup makrokosmos dan mikrokosmos. Barang pusaka yang sarat dengan makna simbolis. Hal ini muncul sejak tahap penciptaan sebagaimana dapat ditelusuri dalam tradisi Krisologi dalam masyarakat tradisional. Arti filosofi keris terletak pada motif atau pamornya. 
Perpaduan antara harapan pemilik, kreasi pembuat keris dan kekuatan yang ada pada kualitas logamnya, membutuhkan ketelitian dan pilihan yang teruji. Motif lukisan gambar pamor sebenarnya merupakan bentuk gambar hias yang muncul di permukaan keris, ganja keris bahkan pesi keris, dengan manifestasi yang timbul dari lukisan, guratan, alur (lekukan), tonjolan (mberendhul), relief, atau berbagai bentuk penampakan lainnya (samudana-samudana). Pamor merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi masyarakat pada umumnya, untuk menentukan bagaimana sikap dan apresiasi mereka terhadap keberadaan keris secara fisik. 
Istilah pamor adalah aplikasi melukis motif tertentu dari gambar di permukaan bilah keris, dengan menggunakan bahan yang berasal dari batu meteoritTak kalah menarik, ternyata setiap lukisan motif gambar pamor yang muncul di permukaan mata/tepi keris pada umumnya juga merupakan bagian dari sistem simbol tertentu. Simbol-simbol tersebut memiliki karakter, nilai makna dan harapan (manusiawi) serta kharisma yang sering dianggap magis. 
 Metafora dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) online adalah penggunaan kata atau kelompok kata bukan berdasarkan arti sebenarnya, melainkan sebagai lukisan berdasarkan persamaan atau perbandingan yang berarti lambang bahasa. 
Retorika visual metaforis dalam simbol, logo, dan merek adalah bahasa isyarat. Dalam tulisannya, Yasraf mengatakan bahwa karya pastiche dalam hal ini sangat bergantung pada keberadaan budaya dan karya masa lalu serta idiom estetika yang ada sebelumnya. Artinya keris memiliki posisi makna filosofis yang cukup kuat bagi masyarakat dalam kepercayaan spiritual ketimuran khususnya di nusantara. Simbol atau logo dalam dunia komunikasi visual dan periklanan merupakan salah satu bentuk penanda atau identitas pada lembaga atau usaha komersial lainnya yang sering disebut dengan merek (mark). Pada era kontemporer atau postmodern nilai-nilai juga merambah dalam dunia periklanan dengan memainkan tanda-tanda di dalamnya. Bisa jadi nilai perlambangan atau patiche muncul pada lambang atau logo dengan mengangkat lambang iklan dan keris sebagai metafora. 
 Banyak pamor Ikonisitas pada tempat jual keris pusaka Pada Simbol, Logo dan Merek Melihat keberadaan lambang keris pada merek sebuah logo komersial atau instansi lain saat ini mungkin sudah ada beberapa tahun yang lalu. Lambang ikonik atau keris baik jenis keris lurus maupun keris berkelok-kelok, digunakan pada lambang pemerintahan dan instansi di beberapa provinsi dan kabupaten di Indonesia. Penanda lambang yang mengangkat lambang keris pusaka murah tidak dibuat tanpa makna di dalamnya, karena unsur verbal dan visual saling mendukung. 
Katy Mayer mengatakan bahwa pertanyaan mendasar yang menopang analisis semiologi adalah bagaimana makna diciptakan. Pertanyaan ini juga diterapkan pada analisis teks atau gambar, karena solusinya terletak pada identifikasi penanda. Korps Marinir TNI AL memasang gambar keris pada logo baret ungu. Hal ini sesuai dengan fungsi dan tugas pokok Marinir untuk melakukan invasi amfibi ke laut. Beberapa unit TNI lainnya juga melakukan hal yang sama. “Keris dan ombak melambangkan Marinir adalah tusukan dari laut,” kata Panglima Korps Marinir Mayjen Djunaidi Djahri di Mabes AL Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (4/11/2021).